denting piano
kala -jemari menari
nada merambat pelan
di kesunyian malam
saat datang rintik hujan
bersama setiap bayang
yang pernah terlupakan
Dan, denting itu lagi. Aku kembali mendengarkannya. Di malam ini, yang sendu. Tanpamu. Tanpa pesan apapun.
Aku hanya duduk. Lalu berbaring. Selalu berpindah posisi. Namun hanya badan, bukan hati. Tanganku tetap menggenggam alat ini. Yang mampu menghubungkan aku, dan kamu. Dulu. Ketika kita masih saling membagi bahagia satu sama lain. Saling membagi duka satu sama lain. Bahagiaku, bahagiamu, sedihku, sedihmu. Dulu, kita satu. Dulu.
Lagu ini terputar menuju telinga, dan merambat ke hati. Memori. Yang kini aku benci. Aku benci untuk mempunyai memori bahagia tentangmu. Aku benci untuk mempunyai memori sedih karnamu. Aku benci untuk mempunyai memori, bahwa aku dulu (dan mungkin sampai sekarang masih) menyayangimu.Aku benci untuk mempunyai memori bahwa kita telah berpisah. Dan aku lebih benci untuk mempunyai memori bahwa kita pernah bertemu.
Kau tahu, kau pasti tahu. Aku yang dulu berusaha untuk kau sayangi, kini berusaha untuk membencimu. Sehingga aku bisa dengan segera melupakanmu. Naif memang, namun apa lagi yang aku bisa? Apa yang aku bisa lakukan disaat aku melihatmu tersenyum bersama yang lain? Disaat aku melihatmu memikirkan orang lain? Disaat aku menerima kenyataan bahwa kau telah menyukai dia. Dia yang lain. Dan disaat aku harus mengerti, bahwa akulah yang terlupakan. Yang kau lupakan.
hati kecil berbisik
untuk kembali padanya
s'ribu kata menggoda
s'ribu sesal di depan mata
seperti menjelma
saat aku tertawa
kala memberimu dosa
Masih berkutat dengan alat ini. Aku. Mencari jejakmu di dunia yang hanya terwakili oleh tulisan dan fotomu. Menelusuri setiap huruf dan kalimat, menerka untuk siapa tulisan itu teruju. Dan pada satu nama, dan itu bukan aku. Ini keputusanmu, yang dengan beratnya harus aku setujui. Dengan bodohnya harus aku terima, tanpa aku perjuangkan lagi kata "kita" pada kita. Kembali padamu, kadang tersirat keinginan untuk itu. Namun semua telah selesai, tak ada lagi "kita" yang bisa aku perjuangkan. Kaupun telah menggantinya menjadi "kami", dan nampaknya akan menunjukkan kata itu padaku.
rasa sesal di dasar hati
diam tak mau pergi
haruskah aku lari dari
kenyataan ini
pernah kumencoba tuk sembunyi
namun senyummu
tetap mengikuti
Sesalku tertuju padamu. Pada situasi ini. Pada kondisi kita. Yang dulu saling berbagi tawa, dan kini tak lagi sapa. Haruskah? Harus. Namun sulit. Bisa. Namun berat. Kadang aku selalu berpura-pura tak mengenalmu, menghindarimu, menyampingkan fakta bahwa aku masih menyayangimu, namun apalah daya. Senyummu tetap disini, tetap mengikuti.




