Selasa, 11 Januari 2011
Mum
11 Juni 1996 aku lahir ke dunia. tentu dengan jerih payah seorang ibu. ibuku sering bercerita tentang proses kelahiranku. tentang bagaimana beliau menunggu kontraksi dari jam 11 siang sampai jam 9 malam, tentang perasaannya yang berkecamuk ketika dokter mengatakan ibuku harus di sesar, padahal ibuku selalu berdoa supaya kelahiranku normal, tentang tenaganya yang hampir habis untuk 'ngeden' karena aku lahir sungsang (padahal waktu itu, katanya tinggal kepalaku saja yang belum keluar) dan cerita-cerita lain yang membuatku semakin mengerti jerih payah ibuku untuk melahirkanku
sekarang aku sudah kelas 9 SMP. berbagai prestasi sudah aku torehkan antara lain juara favorit 1 lomba sinopsis sejarah tingkat SMP se-DIY, juara 1 lomba pidato anti HIV/AIDS tingkat SMP&SMA se-DIY, dan juara 3 lomba TV Presenter Lusy Laksita se-DIY, dan lain-lain. semuanya tidak terlepas dari jasa seorang ibu. apalagi buat yang terakhir ini. ibuku rela bolak-balik dari rumah ke lokasi lomba cuma buat nemenin aku lomba. ibuku juga nyuruh om sama tanteku buat dateng nonton aku lomba. detik-detik pengumuman pemenang, ibu pulang kerumah. katanya mau sholat maghrib gitu. terus aku tunggu di lokasi. aku nungguin di tempat lomba sendirian. dan disitu aku bener-bener nggak ada temen ngobrol. semua peserta ditemenin sama orang tua&temen-temennya. disana aku cuma bisa speechless. sampai pada saat aku dipanggil sebagai juara ketiga, ibuku masih belum datang. jadilah aku berdiri di panggung menerima piala SENDIRIAN :') tapi begitu turun dari panggung, aku melihat sesosok perempuan yang wajahnya familiar. hey, tunggu. itu kan.. IBU? dan bahkan bukan hanya ibuku yang datang, namun ayahku juga datang dan langsung memotretku yang masih membawa piala. aku memeluk mereka berdua :'D
tapi, ceritaku dengan ibuku tidak melulu senang dan bahagia. saat aku juara 1 lomba pidato anti HIV/AIDS tingkat SMP&SMA se-DIY, aku tidak didampingi siapa-siapa karena ayahku kerja dan ibuku juga kerja. aku menuju lokasi lomba sendirian, tapi disana sudah ada 2 guru yang menjadi pengawasku dan beberapa temanku yang menjadi supporter. aku mencoba menenangkan diriku disana. toh, ayah dan ibuku nggak mendampingi aku bukan karena nggak mau tapi nggak bisa. aku selalu ingat perkataan ibuku
"Vina, ibu nggak bisa meninggalkan pekerjaan ibu. ayah juga. ayah sama ibu wiraswasta, nggak bisa sembarangan meninggalkan pelanggan. ingat, dari uang mereka kita bisa makan, bisa hidup"
dan aku tampil berpidato tentang HIV/AIDS. teman-temanku yang menjadi supporter juga menyemangatiku. waktu itu sudah maghrib. semua peserta sudah berpidato dan sudah menunggu hasil penilaian juri. 2 guruku udah pulang dari sebelum maghrib. sementara teman-temanku yang tadinya ada 20 orang, sekarang tinggal 3 orang. pemenang dibacakan dari juara favorit 3 - juara 1. aku pesimis banget waktu itu, aku mengira aku hanya bisa mendapat juara favorit 1. beruntung kalo jadi juara 3. dan aku teruss menunggu sampai akhirnya juara 2 diumumkan dan.... itu bukan aku. aku putus asa. lagian, juara 2 itu anak SMA. dan penampilannya lebih bagus dari aku yang masih kelas 9 SMP. tapi temanku terus menyemangatiku. dia bilang "kamu juara 1 Vin, tenang aja! kan juara 1 belum diumumin, pasti kamu!" dan aku hanya tersenyum pahit. tapi siapa sangka, MC menyebutkan nomor pesertaku sebagai juara 1. aku tidak percaya. kaget banget waktu itu! sampai-sampai temanku harus mengguncang-guncangkan tubuhku supaya aku sadar. akhirnya aku berlari ke atas panggung dan menerima pialanya. aku memeluk teman-temanku satu persatu. waktu pulang aku bingung lagi. gimana cara bawa pialanya? padahal aku bawanya motor, bukan mobil (karena aku nggak bisa pake mobil hehe). yaudah, aku masukin ke tasku tuh pialanya. dan alhasil NGGAK CUKUP -___- terus tasku aku taliin ke perutku pake jaket, biar nggak jatuh-jatuh gitu pialanya. sampai rumah, ibuku yang tadinya murung langsung menyambutku, tersenyum riang dan memelukku. beliau sangat senang, apalagi ayahku. ayah sampai memajang piala di perpustakaan rumahku -___-
kini, aku sedang menghadapi ujian nasional. dan aku nulis ini ditengah-tengah ujian nasional. sekarang, hanya satu harapanku. aku ingin masuk SMA favorit yang aku idamkan sejak dulu. bukan hanya aku, tapi ibuku juga. ayahku juga. keluarga besarku juga. aku ingin membanggakan mereka semua. bukan hanya ibu kandungku, tetapi aku juga ingin membanggakan ibu di sekolahku, yakni ibu guru yang telah mengajarkan aku. aku ingin menunjukkan pada mereka, bahwa ilmu yang mereka berikan kepadaku tidak sia-sia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar